Menu Tutup

Kumpulan Testimoni Kisah Anak Autis yang Sembuh

Anak Autis Bisa Sembuh

Sering kali menjadi pertanyaan orang tua yang memiliki anak yang autis. Apakah anak autis bisa sembuh/normal? Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang kesembuhan anak autis, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu pengertian autis ini. Autisme adalah gangguan perkembangan otak seseorang yang menyebabkan penderita kesulitan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain).

Psikiater dan pemerhati autisme dr. Kresno Mulyadi, Sp.KJ menerangkan autis merupakan gangguan perkembangan neurobiologis berat pada anak sehingga menimbulkan masalah dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungannya.

Gejala Autis dapat dikenali dengan ciri-ciri minimnya interaksi dan emosi yang labil serta buruknya kualitas komunikasi penyandangnya pada tiga tahun pertama kehidupannya. Selain itu, penyandang autis memiliki keterbatasan minat serta sering melakukan gerakan berulang disertai respon sensorik yang menyimpang.

Baca Juga: Anak Berkebutuhan Khusus, Berikan Perhatian Lebih

Banyak sekali contoh orang yang divonis mengalami autisme namu mampu bersosialisasi dengan cukup baik. Bahkan beberapa dari mereka adalah orang-orang yang terkenal. Berikut ini beberapa testimoni atau kesaksian anak autis yang bisa sembuh / normal dan cara penanganannya:

  1. Anak Dr Diana

    Sumber: Detik Health

    Metode Penyembuhan: Menerapkan metode smart ABA (applied behavior analysis) dan smart BIT (biomedical intervention therapy).

    “BIT itu merupakan suplemen, obat, diet. Sedangkan ABA lebih ke perilakunya. Itu dilakukan berbarengan,” lanjut dr Diana.

    Ketika menerapkan BIT, dr Diana mengupayakan anaknya benar-benar menghindari makanan yang mengandung kasein, gluten, gula, phenol untuk membersihkan pencernaannya. Ini penting agar pencernaan anak terbebas dari jamur, bakteri, virus dan parasit yang membuat perilaku semakin tidak terkontrol.

    “Diet seperti ini jadinya bukan cuma ke anak saja, tapi juga ke orang tuanya, biar nggak bocor,” sambung alumnus Fakultas Kedokteran Trisakti ini.

    Menurutnya dengan membatasi asupan, hal ini tidak akan membuat anak jadi kurus, tapi justru membuat anak menjadi lebih sehat. Tak cuma itu, agar anak autis bisa sembuh dr Diana juga menyarankan untuk menghindari paparan bahan kimia.

  2. Faris

    Sumber: Kompasiana

    Metode Penyembuhan: Menerapkan metode smart ABA (applied behavior analysis) dan intervensi biomedis sejak usia 1,5 tahun.

    Faris, anak autis yang lahir pada 14 Juni 1998 berhasil sembuh dan sejak sekolah dasar menempuh pendidikan di sekolah reguler Al Fikri Depok yang meraih nilai rata-rata 8,8 pada ujian nasional.

  3. Muhammad Valdi

    Sumber: Kompasiana

    Metode Penyembuhan: Terapi yang dilakukan secara intensif dan terpadu, serta dukungan semua pihak, sosok yang akrab dipanggil Valdi berhasil sembuh dari autis.

    Tidak hanya dapat menjalani keseharian sebagaimana anak normal, pria kelahiran 24 Mei 1994 itu juga menorehkan sejumlah prestasi.

    Tercatat ia beberapa kali turut memperkuat DKI Jakarta dalam sejumlah kejuaraan renang. Kini ia bercita-cita menjadi seorang sejarahwan.

    Saat tampil sebagai pembicara pada gebyar hari autis sedunia 2014 di Padang, tak ada yang menyangka Valdi dalam mantan penyandang autis karena dapat berkomunikasi dengan baik dan tampil sebagai pembicara memaparkan perjuangannya melawan autisme.

Terapi Penyembuhan Anak Autis

Selanjutnya dr. Kresno Mulyadi, Sp.KJ menjelaskan bahwa autis dapat disembuhkan melalui dua cara yaitu terapi yang intensif dan terpadu serta melakukan diet khusus bagi penyandangnya.

“Jika ada yang berpendapat autisme sudah baku dan tidak ada lagi harapan itu paradigma lama, berdasarkan temuan terbaru gangguan Autis dapat disembuhkan melalui terapi dini secara intensif dan terpadu”, kata dia.

Ia menerangkan terapi yang dapat dilakukan meliputi terapi prilaku diantaranya menggunakan metode yang dikembangkan Ivar Lovaas dari UCLA yaitu konsep Aplied behavior Analysis (ABA).

Terapi ABA dilakukan secara intensif selama 40 jam per minggu dalam dua tahun dimana berdasar hasil penelitian terjadi peningkatan IQ yang besar pada penyandangnya, kata dia.

Kemudian, anak penyandang autis agar bisa sembuh harus melakukan diet tidak mengkonsumsi terigu, coklat dan susu. Karena berdasarkan kajian terapi biomedik jenis makanan tersebut memperparah kondisinya. Ia menjelaskan pada penyandang autis terjadi peningkatan daya serap dimana protein yang seharusnya tidak lolos pada makanan yang mengandung coklat, terigu dan susu masuk ke peredaran darah dan terbawa ke otak.

Baca Juga: Kebutuhan Nutrisi Anak Autis yang Perlu Dijaga

Setelah berada di otak zat yang terkandung pada makanan tersebut dinilai oleh saraf memiliki rumus kimia seperti morfin sehingga memperburuk kondisi penyandang autis dan dapat diibaratkan mereka tengah mengkonsumsi morfin. Sedangkan makanan yang mengandung terigu akan memperparah kondisi pencernaan penyandang autis yang pada umumnya berjamur, kata dia.

Sedangkan makanan yang mengandung terigu akan memperparah kondisi pencernaan penyandang autis yang pada umumnya berjamur, kata dia

Karena itu pada penyandang autis dengan melakukan diet tidak mengkonsumsi gula, terigu dan coklat akan memperbaiki fungsi-fungsi abnormal pada otaknya sehingga saraf pusat bekerja lebih baik dan berbagai gejala autis dapat dikurangi bahkan dihilangkan.

Setelah itu jika diperlukan dapat dilakukan terapi lain sebagai penunjang berupa medikamentosa, okupasi dan fisik, wicara, bermain dan terapi khusus.

Kunci dari semua itu adalah terapi dini, intensif dan terpadu sehingga dimungkinkan penyandang autis akan sembuh, kata dia.

Ia mengatakan di Indonesia telah banyak penyandang autis yang dapat disembuhkan dengan terapi tersebut dan berhasil menyelesaikan studinya hingga meraih gelar sarjana.

Anak Autis Bisa Sembuh dengan Melilea

Melilea Greenfield Organic tidak hanya diet, tapi juga digunakan sebagai detox organik yang mendukung proses penyembuhan anak autis. Terbuat dari bahan organik yang berkualitas serta mendapatkan penghargaan bintang 5. Melilea GFO memiliki manfaat sebagai antiosidan, anti biotik, anti septic, memperbaiki fungsi organ-organ tubuh, mengeluarkan racun dan zat berbahaya dari tubuh.

Ketika menerapkan BIT, dr Diana mengupayakan anaknya benar-benar menghindari makanan yang mengandung kasein, gluten, gula, phenol untuk membersihkan pencernaannya. Ini penting agar pencernaan anak terbebas dari jamur, bakteri, virus dan parasit yang membuat perilaku semakin tidak terkontrol.

Kasein pada umumnya berasal dari susu hewani (susu sapi) serta berbagai macam produk turunannya, seperti krim dan keju. Bagi anak penderita autisme, lebih baik mengganti susu sapi dengan susu kedelai, karena tidak mengandung kasein dan glutein. Dengan demikian, para penderita autisme tetap mendapatkan protein, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Susu Kedelai terutama soya Melilea memiliki banyak kandungan gizi yang tak kalah dengan susu sapi/hewani. Untuk lebih jelasnya anda bisa baca di Manfaat Susu Kedelai Melilea.

Jadi jawaban atas pertanyaan apakah anak autis bisa sembuh adalah bisa dengan izin Allah. Dibantu dengan menerapkan metode smart ABA (applied behavior analysis) dan BIT (biomedical intervention therapy atau terapi intervensi biomedis)

Posted in Autisme

Related Posts

2 Comments

    • Organic Detox

      Banyak faktor yg membuat anak autis bisa mendekati normal.
      – makanan
      – berbagai macam terapi

      Anak Autis bukan menderita penyakit tapi kita sebut penyandang.

      Saya telah membuktikan, jika anak saya full diberi makanan organic Melilea ini maka dia akan sehat, imunitasnya menjadi lebih kuat dan tahan lama, jauh lebih tenang, terapi lebih mudah diberikan.

      Sebaliknya kalo diberikan makanan yg tidak organik maka si anak akan lebih sering tantrum, semaunya sendiri, dan badannya mudah drop.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hubungi Via WA